#KKN-PPM UGM Semarak Tobadak 2025
Mahasiswa KKN-PPM UGM Gagas Program Si Tangkas: Sistem Tanggap Sampah Berbasis Komunitas di Desa Mahahe, Kecamatan Tobadak, Mamuju Tengah
Desa Mahahe, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, tengah menghadapi krisis pengelolaan sampah yang kian memprihatinkan. Timbunan sampah yang mencemari area pasar dan lingkungan permukiman menjadi pemandangan sehari-hari. Desa ini tidak memiliki tempat pembuangan sementara (TPS) aktif, belum ada sistem pengangkutan yang berjalan, dan tidak ada lembaga khusus yang menangani pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat dan menjadi salah satu isu lingkungan yang mendesak untuk segera ditangani.
Melalui pendekatan partisipatif, mahasiswa menggandeng berbagai elemen masyarakat mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mamuju Tengah, pemerintah desa Mahahe, Karang Taruna, Kepala Dusun dan RT setempat, hingga para pelaku UMKM dan pengelola pasar untuk bersama-sama membangun pondasi awal sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas ini. Program ini bukanlah solusi akhir, melainkan sebuah langkah awal yang bertujuan membuka ruang kesadaran dan kerja bersama antara masyarakat dan pemangku kepentingan.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan meliputi edukasi pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga, sosialisasi pembuatan ember tumpuk untuk sampah organik, pelatihan pembuatan ecobrick dari limbah plastik, serta penyebaran informasi door-to-door untuk memperkuat pemahaman warga tentang pentingnya tanggung jawab terhadap sampah sejak dari sumbernya. Selain itu, dilakukan pula survei terhadap warga Dusun Sipatuo sebagai dusun percontohan, dengan hasil menunjukkan bahwa 94% rumah tangga dari 50 rumah sebagai target survei menyatakan bersedia memilah sampahnya serta mendukung sistem retribusi sederhana berupa iuran Rp5.000 setiap tiga hari untuk layanan pengangkutan sampah.
Program ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi lintas stakeholder yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, Pemerintah Desa Mahahe, dan mitra strategis lainnya. Hasilnya, disepakati pentingnya membentuk komunitas pengelola sampah desa dan merevitalisasi kelembagaan bank sampah yang selama ini tidak berjalan optimal. Mahasiswa juga menyusun skema pengelolaan berbasis kolaborasi, dengan pengangkutan oleh BUMDes, pengolahan sampah organik secara lokal, dan kerja sama distribusi sampah anorganik ke pengepul di Kecamatan Topoyo, Mamuju Tengah.
Meskipun bersifat inisiasi, program ini diarahkan untuk memiliki kesinambungan jangka panjang. Oleh karena itu, mahasiswa turut merancang rekomendasi strategi yang dapat dilanjutkan oleh pemerintah desa dan kabupaten, termasuk di dalamnya penyusunan regulasi berupa peraturan desa (perdes), peraturan bupati (perbup), hingga dorongan untuk menjadi bagian dari sistem pengelolaan lingkungan daerah melalui perda. Dalam jangka pendek, prioritas difokuskan pada penguatan kelembagaan komunitas, pemetaan jalur distribusi sampah, dan peningkatan partisipasi warga. Sementara itu, jangka menengah dan panjang akan mencakup pengadaan sarana prasarana seperti mesin press, armada pengangkut, instalasi TPS, serta model bisnis berkelanjutan melalui BUMDes.
Program Si Tangkas menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari gerakan kecil yang dibangun bersama warga. Peran mahasiswa bukan sekadar membawa teori dari kampus, tetapi juga menjembatani keresahan masyarakat ke arah transformasi yang lebih konkret. Harapannya, pemerintah daerah dapat menjadikan inisiatif ini sebagai pijakan awal untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, adil, dan berorientasi pada kemandirian komunitas desa.
Ingin mengetahui aktivitas di Desa Mahahe lebih banyak lagi?
Jelajahi Aktivitas Lainnya
